Properti Diperkirakan Puncaknya Terjadi Pasca Pilpres 2019

Di kuartal akhir 2017, hampir semua indikator properti memperlihatkan tren positif. Harga rumah di pasar sekunder pun terlihat mulai bergerak naik.

Harga penawaran dan pasar pun mulai merespon cukup baik meskipun belum terlalu signifikan. Demikian hasil pantauan Indonesia Property Watch (IPW) selama kuartal IV-2017.

Di sektor perumahan primer, penjualan rumah di harga Rp300 jutaan – Rp500 jutaan bahkan melonjak di wilayah Banten dan Bodebek mencapai 78% – 125%. Para pengembang, di sisi lain, mulai berani menaikkan harga rumahnya meskipun masih belum signifikan.

Indonesia Property Watch sempat memperkirakan pasar properti mulai memperlihatkan pergerakan di awal 2017 dan melaju di semester II 2017, diikuti dengan beberapa pengembang besar yang mulai berani masuk kembali ke pasar, bahkan pasar menengah-atas menjadi target pasarnya.

Tercatat beberapa proyek yang diluncurkan di semester II 2017 dan beberapa pengembang telah mengambil ancang-ancang untuk masuk pasar di awal 2018.

Supply Driven
Optimisme dari para stakeholder turut mendongkrak pasar properti. Aksi para pengembang juga membuat pasar properti kembali bangun dari tidurnya selama ini. Mengapa demikian?

“Karakteristik pasar properti di Indonesia terbilang mengikuti kaidah supply driven, dimana salah satu penentu kebangkitan pasar properti lebih dikarenakan aksi-aksi yang dilakukan para pengembang. Bukan demand driven, karena kalau permintaan sebenarnya pasar properti Indonesia tidak akan kehabisan daya beli, apalagi segmen menengah atas,” jelas Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch.

Hal ini juga yang mungkin bisa menjelaskan mengapa saat ini meskipun daya beli dan permintaan cukup besar, namun penjualan properti relatif masih tertahan.

Para investor selama 2017 belum menemukan produk yang sesuai karena perilakunya yang semakin selektif. Banyaknya investor yang terbuai harga terlalu tinggi pada periode booming 2010-2012 semakin berhati-hati untuk tidak membeli dengan harga yang terlalu tinggi.

Puncak Setelah Pilpres?
Banyaknya proyek yang ada di pasar yang berjalan tanpa adanya aksi promo dan peluncuran produk baru, membuat proyek seakan dilupakan oleh pasar. Dengan munculnya proyek baru membuat pasar kembali aktif.

“Secara umum begitulah karakteristik pasar properti di Indonesia, yang lama seakan ditinggalkan ketika ada proyek baru yang diluncurkan,” kata Ali.

Dia menilai, isu-isu sensitif pasca-Pilkada DKI Jakarta relatif sudah mulai berkurang, sementara fundamental ekonomi dan properti cukup positif.

Masuknya para pengembang ke pasar, selain membangkitkan optimisme pasar juga membuat persaingan semakin ketat minimal pada semester awal 2018, sekaligus bersiap diri puncak pasar properti yang diperkirakan terjadi setelah pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

 

http://www.rumahhokie.com